Sambutan Kepala Madrasah

Kamis, 23 Maret 2017

Sunaryo Kartadinata, Dari Pangcalikan Siliwangi ke Bumi Siliwangi

Oleh: Yatun R. Awaliah
Dosen UPI Bandung, tulisan dimuat di Tabloid Pendidikan Ganesha

Sepintas dilihat dari namanya semua orang pasti akan mengira bahwa dia adalah peranakan jawa. Padahal kalau ditelusuri lebih jelas ia merupakan orang sunda asli. Dialah Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia yang juga menjabat Ketua Umum ISPI 2009-2014 dan 2014-2019.

Awalnya tidak ada yang mengira bahawa lelaki kelahiran Desa Cigintung, Kecamatan Kawali Ciamis 21 Maret 57 tahun silam ini begitu nyunda, hal itupun terbukti pada saat acara launching Majalah Cahara Bumi Siliwangi dan Ronggeng Gunung di UPI dengan fasih Sunaryo memberikan sambutan dalam bahasa sunda yang begitu ngentep seureuh. Bahkan para inohong Sunda yang hadir saat itu, begitu terkejut dengan ucapan dan sikap sunaryo yang kental dengan adat kesundaan.

“Saya tidak menyangka ia begitu kental adat kesundaanya, dalam berbicara memang ia pun begitu ngentep seureuh dan dalam menggunakan undak-usuk basa pun sangat fasih,” ujar Karna Yudibrata, salah seorang inong Sunda yang hadir saat itu.

“Belajar bahasa sunda memang dari kecil, semenjak SD sampai sekolah SPG di Ciamis,” jawab putra sulung dari empat bersaudara pasangan H. Sukarta dan Hj Surliah ini, saat ditanya akan hal tersebut.

Kehidupan Sunaryo tidak langsung sukses begitu saja, dengan memegang jabatan penting seperti saat ini. Tetapi ia memulai semuanya dari nol.

Sunaryo mengawali pendidikan formalnya pada tahun 1957 di SDN 2 Talagasari. Hidup sebagai anak petani dilewatinya dikampung halaman tercinta. Masih terbayang dalam benaknya bagai mana waktu itu, meskipun masih kecil ia harus ikut membantu orangtuanya membajak sawah dan mengembala kambing yang merupakan mata pencarian utama keluarga.

Saat menempuh jalur pendidikan di SMP 1 kawali tahun 1963, Sunaryo memiliki tradisi yang sangat unik. Bila berangkat ke sekolah ia tidak pernah menggunakan alas kaki alias nyeker, dan barulah setelah sampai kesekolah ia pergunakan sepatunya.

“Jarak dari rumah ke sekolah kan lima kilometer dilalui dengan berjalan kaki, jadi supaya sepatunya awet, ya biasanya jarang dibawa pulang. Suka disimpan saja, di titipkan di Ibu pemilik warung sekolah, dan digunakan hanya saat sekolah saja. Selain itu juga biasanya kalau mau pergi ke sekolah saya selalu mebekal karung di tas. Kan biasanya sambil pulang sekoal itu sambil ngala rumput untuk kambing. ” kenangnya.

Meskipun tergolong dari keluarga yang pas-pasan, tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus bersekolah. Malah hal tersebut dijadikan Sunaryo sebagai motivasi agar kelak menjadi orang sukses dan dicontoh oleh adik-adiknya. Hal itu ia buktikan setelah lulus dari SPG Ciamis tahun 1970 dengan melanjutkan ke jurusan Bimbingan Penyuluhan IKIP Bandung.

Kesempatan untuk meraih cita-cita sebagai seorang guru mulai terbuka tatkala lulus pogram diploma ia dipercaya untuk menjadi asisten dosen di almamaternya sendiri sembari melanjutkan kuliah diprogram sarjana.

Semasa kuliah, Sunaryo dimata teman-temanya sebagai sosok yang begitu pintar dan berprestasi. Hal itulah yang menjadikan modal utamanya untuk mempersunting teman sekelasnya sendiri, yang bernama Dra. Euis Misyeti, M.Pd.

“Kami teman sekelas, ya biasanyakan dia (Euis–red) suka kesiangan kalau kuliah. Nah biasanya, saya itu selalu menyiapkan kursi kosong disamping saya khusus buat dia, ya karena sering begitu Dosen pun akhirnya pada tahu ‘itu kursi buat Euis ya’. Dan teman-teman sekelas suka mneggosipkan kami. Dia awalnya agak marah dengan keadaan itu. Tapi ya lama kelamaan takluk juga,” jelasnya sambil tertawa terkenang masa lalu, tatkala menceritakan pengalaman masa mudanya bersama sang istri.

Karir akademik Sunaryo berawal pada tahun 1978 saat dipercaya menjadi Sekretaris Jurusan BP FIP IKIP dan kemudian menjadi ketua Jurusan BP FIP IKIP. Hal itu ia lakukan sambil melanjutkan kuliah diprogram pascasarjana. Namun, beberapa tahun kemudian ia berhenti karena harus konsentrasi melanjutkan kuliah di Program S3 Bimbingan konseling yang saat itu lulus masuk tanpa tes.

Saat menempuh pendidikan S3 merupakan momen yang paling berharga bagi Sunaryo karena dengan program sandwich mengharuskannya menempuh beberapa SKS di State University of New York. Saat itulah untuk pertamakalinya Sunaryo bisa mengunjungi Amerika yang sejak dulu diimpikannya.

Selama enam bulan ia berada di Amerika untuk menimba ilmu dan harus rela meninggalkan istri tercinta yang saat itu sedang mengandung anak ke-3.

“Saat anak ketiga lahir, saya tidak berada disamping istri, menyaksikan kelahirannya karena berada di Amerika,” ungkap ayah dari tiga orang anak yang juga merupakan kakek dari empat cucu ini.

Sepulang dari Amerika, karir Sunaryo semakin bertambah dengan dipercaya sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pendidikan dan beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 13 September 1988 ia lulus program doktoral dengan nilai cum laude.

Saat mengemban amanah sebagai Pembantu Rektor II, pada bulan Agustus 1996 Sunaryo dikukuhkan sebagai Guru Besar Psikologi dan Bimbingan Konseling dengan judul orasi ”Pendekatan psikologi dalam bimbingan konseling”.

Tahun 2005 merupakan puncak karir bagi Sunaryo dengan mendapatkan amanah menjadi “nakhoda” Universitas Pendidikan Indonesia masa bakti 2005-2010. Ia merupakan Rektor UPI BHMN pertama yang dipilih oleh stike holder-nya.

Perjalanan dari Kawali ke Bumi Siliwangi, begitu benar-benar dinikmati oleh Sunaryo. Baginy komitmen yang paling penting dalam hidupnya bahwa ia harus terus berusaha dan memberikan yang terbaik.

“kiat suksesnya sih, ya terus berusaha, berdo’a dan bersyukur. Kemudian jangan lupa motivasi yang paling utama dan kuat adalah dari istri. Mungkin saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini kalau tidak didukung oleh motivasi dan dorongan istri saya” pungkasnya.