Sambutan Kepala Madrasah

Rabu, 15 Maret 2017

Rektor UPI Prof. Sunaryo: Tantangan Dunia Pendidikan Semakin Kompleks

BANDUNG,(PRLM).-Tantangan dunia pendidikan semakin hari semakin kompleks. Selain dituntut untuk memberi jawaban atas masalah-masalah domestik, dunia pendidikan juga ditantang untuk memberikan solusi atas beragam persoalan yang mengemuka akibat kehidupan yang saling terkoneksi satu sama lain.

"Perubahan akibat globalisasi tampak lebih cepat ketimbang pembaruan kurikulum dan penilaian," kata Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Sunaryo Kartadinata saat menyampaikan pidato dalam upacara wisuda gelombang I UPI, Rabu (18/4), di Kampus UPI Jln. Dr. Setiabudhi Bandung.

Pada skala nasional, kata Rektor, saat ini telah terjadi anomie, yakni kehilangan pegangan moral dan nilai budaya. Beberapa aturan hukum dan norma sosial kehilangan daya paksanya dan terkesan saling bertentangan sehingga memicu konflik dan menimbulkan kebingungan.
"Akibatnya perilaku main hakim sendiri dan berbagai tindakan melecehkan hukum mencuat ke permukaan menyertai beragam tindak kekacauan dan perilaku menyimpang," katanya.
Hal lain yang juga memprihatinkan menurut Sunaryo, adalah gejala demoralisasi yang menghebat di kalangan masyarakat. Mentalitas masyarakat di perkotaan dibentuk oleh budaya pop dan dibuai irasionalitas iklan yang serba instan dan hedonistik.

"Di pedesaan, otoritas dan sumber kewibawaan tradisional hancur sehingga generasi muda meniru model dan sumber nilai dari luar. Sebagian mahasiswa, buruh dan kaum muda lebih memilih berkomunikasi dengan batu dan bom molotov ketimbang memajukan nalar dan akal sehat," ungkapnya.

Semuanya itu, kata Sunaryo, menegaskan jika saat ini kita menghadapi masalah bagaimana menegakkan jiwa merdeka dengan memajukan akal sehat dan ketulusan berbuat demi masyarakat dan bangsa. Padahal kemerdekaan sebagai jembatan emas menuju masyarakat adil makmur sudah dibentangkan sejak 67 tahun lalu.

"Sebagai lembaga pendidikan tenaga kependidikan, UPI terpanggil untuk mengatasi persoalan di atas. Dengan mengokohkan teaching sebagai profesi. Menjadi guru bukan proses instan. Perbuatan mendidik bukan perkara memilih teknik atau merancang bahan ajar, melainkan serangkaian proses bertujuan yang bertolak dari hakikat dan tujuan hidup peserta didik sebagai manusia yang utuh," ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut UPI mewisuda 2.214 lulusan. Jumlah tersebut meliputi 60 lulusan doktor, 149 magister pendidikan, 9 magister non kependidikan, 1.739 sarjana kependidikan, 248 sarjana non kependidikan, dan 9 orang lulusan diploma non kependidikan.
"Dari keseluruhan wisudawan, 60 persen atau 1.327 lulusan adalah perempuan. Fakta ini memberi testimoni atas keberhasilan para pejuang dan pendidik perempuan," katanya. (A-157/A-89)***

Sumber:Pikiran Rakyat