Sambutan Kepala Madrasah

Rabu, 29 Maret 2017

Prof. Sunaryo Kartadinata

Oleh : H. Sutan Zaili Asril
Wartawan Senior Harian Pagi Padang Ekspres




Sungguh Cucu Magek Dirih terkaget-kaget mengikuti/ mendengarkan/mencermati kuliah umum Sunaryo Kartadinata yang menandai pembukaan semester ganjil Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang di Kampus Sudirman Padang, Sabtu 15 September 2013. Kaget karena pada kapasitasnya sebagai Rektor UPI/Ketua Umum PB ISPI, ia tak terlibat/dilibatkan Mendikbud M Nuh dalam penyusunan Kurikulum 2013; karena pada dasarnya, ternyata, ia menolak kurikulum 2013—karena sudah jadi kebijakan yang tergopoh ia mengusulkan supaya dilakukan langkah pilotting kurikulum 2013; dan sesungguhnya tidak ada yang salah/perlu diubah pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas—kecuali karena tak ada kata/kalimat ”pendidikan karakter” yang mencuat secara latah. Sesungguhnya, berdasarkan kapasitas/penguasaan masalah dan posisinya, Sunaryo selayaknya memangku posisi yang mengambil kebijakan sistem pendidikan nasional—Cucu Magek Dirih yang memimpikan demikian.

SEBAGAI mahasiswa pas­ca­sarjana pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, Cucu Magek Dirih merasa sangat beruntung dapat hadir/mengikuti kuliah umum dengan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Dr H Sunaryo Kartadinata MPd, Sabtu (15/9) di kamopus Sudirman Padang—pada tempatnya Direktur Pascasarjana Prof Awiskarni/Rektor Prof Makmur Syarif men­datang­kannya untuk memberikan studium general tahun semester ganjil 2013. Topik kuliah umum tentang Kuri­kulum 2013 yang sedang diber­lakukan pada 6.500 unit sekolah dasar/sekolah menengah pertama/sekolah menengah atas/sederajat di seluruh daerah Indonesia terhitung medio Agustus 2013. Mendikbud Mohammad Nuh pula menam­pak­kan antusiasmenya dengan menye­but: selain 6.500 unit sekolah yang diikutkan dalam pelaksanaan Ku­rikulum 2013, juga ada banyak lagi sekolah negeri/swasta yang ber­keinginan ikut serta. Dalam kuliah umum Prof Surnayo me­nyampaikan pandangan dan rekomendasi, yang di antaranya membuat Cucu Magek Dirih terkaget-kaget.

Sunaryo Kartadinata lahir di Ciamis, Jabar, 21 Maret 1950 (umur 63 tahun), seorang guru besar UPI (dulu IKIP Bandung) dan rektor UPI periode 2005-2010/2010-2015, yang juga Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) periode 2009-2014. Ahli ilmu bim­bingan konseling pendidikan ini meraih master bimbingan konseling pada IKIP Bandung (1983), sandwich program di University of New York (1986), dan gelar doktor dalam ilmu bimbingan konseling IKIP Bandung (1988). Sunaryo, Ketua Umum PB Asosiasi Bimbingan Konseling (ABKIN, 2001-2006), Ketua II ISPI di Jakarta (2004-2009), Ketua Majelis Eksekutif Asosiasi LPTK Indonesia (2005-2010), Ketua Umum Forum Pendi­dikan Anak Usia Dini Jawa Barat (2006-2011), Pengurus Ikatan Cen­dekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Bidang Pendidikan dan Pengem­bangan SDM (2010-2015), Ketua Umum ISSE Bandung (2002-seka­rang), Ketua Dewan Pembina PB Musyawarah Guru Bimbingan Kon­seling (MGBK, 2012-sekarang), Dewan Penasihat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jabar (2012-sekarang), dan Ketua Umum ISPI (2009-sekarang).

Sebagai pakar, Soenaryo dite­mukan dua buku ditulisnya. Yaitu, Sunaryo Kartadinata, Membangun Keutuhan Bangsa Melalui Pen­didikan dalam Bingkai Utuh Sistem Pendidikan Nasional, UPI, 2009; Sunaryo Kartadinata, Mewujudkan visi Leading and Outstanding dalam Pendidikan Tenaga Kependidikan, UPI, 2008. Karena memper­tim­bangkan empat buku lain yang berkaitan dengan keberadaan/peran Sunaryo, maka Cucu Magek Dirih membeli satu buku pertama. Empat buku berkaitan adalah: Tim P­engem­bangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Aplikasi Pendidikan Bagian Satu Pendidikan Teoritis, Imtima, 2007; Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Aplikasi Pendidikan Bagian Dua Ilmu Pendidikan Praktis, Imtima, 2007; Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Apli­kasi Pendidikan Bagian Tiga Pen­didikan Disiplin Ilmu, Imtima, 2007; dan Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Apli­kasi Pendidikan, Bagian Empat Pendidikan Lintas Bidang, Imtima, 2007. Jadi, walau baru bertemu directly di kuliah umum, Cucu Magek Dirih sudah ”mengenal pikiran” Soenaryo sebelumnya.

Kurikulum perangkat mata pela­jaran/program pendidikan yang dibe­rikan penyelenggara pen­didi­kan, berisi rancangan pelajaran untuk peserta didik/satu periode pendidikan. Perangkat mata pela­jaran disesuaikan keadaan/ke­mam­puan jenjang pendidikan/kebu­tuhan kerja. Waktu kurikulum dise­suaikan maksud/tujuan sistem pendidikan. Kurikulum untuk me­nga­rahkan pendidikan menuju tu­juan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. Satu fungsi kurikulum, alat mencapai tujuan pendidikan. Pada kurikulum ada komponen pokok/penunjang saling berkaitan-berinteraksi. Merupakan satu sistem dari berbagai komponen saling berkaitan/tidak bisa dipi­sahkan satu dan lainnya. Para ahli berbeda pendapat menetapkan komponenn kurikulum. Ada yang mengemukakan 5 komponen: kom­ponen tujuan; komponen isi/materi; komponen media (sarana/pra­sa­rana); komponen strategi; dan komponen PBM. Atau 4 komponen: objective/tujuan; knowledges/isi/materi; school learning experiences/interaksi belajar mengajar di seko­lah; evaluation/penilaian. Intinya: tujuan; isi dan struktur kurikulum; strategi pelaksanaan proses belajar mengajar, dan evaluasi.

Fungsi-fungsi kurikulum pendi­dikan: pertama, kurikulum sebagai alat mencapai tujuan pendididkan. Ditentukan: kurikulum alat men­capai tujuan pendidikan nasio­nal, program yang dilaksanakan guru/murid dalam PBM; pedoman guru/siswa dan PBM berjalan dengan baik. Kedua, kurikulum bagi seko­lah: alat mencapai tujuan pendi­dikan; pedoman dalam mengatur semua kegiatan PBM di sekolah: jenis program, cara menye­leng­garakan, siapa bertanggung jawab. Ketiga, kelanjutan tingkat di atasnya (kesinambungan)/mengetahui kuri­kulum di tingkat bawahnya; pe­nyiapan tenaga guru/materi: isi/organisasi/cara mengajar. Keempat, bagi guru yang melaksanakan dan mengembangkan kurikulum. Keli­ma, bagi kepala sekolah/barometer untuk pengukur keberhasilan program sekolah. Keenam, kurikulum bagi pengawas (supervisor): pedo­man, patokan, atau ukuran, pe­nyem­purnaan. Ketujuh, kurikulum bagi masyarakat: tahu akan penge­tahuan/sikap/nilai/keterampilan dibutuhkan apa relevan dan atau tidak. Kedelapan, kurikulum bagi pemakai lulusan: instansi/peru­sahaan dan peningkatan produk­tivitas.

TOPIK yang diketengahkan Su­naryo, Implementasi Kurikulum 2013: Antara Prospek dan Tanta­ngan. Agar agak paham, Cucu men­jajarkan sejarah perkembangan sistem pendidikan nasional Indonesia, dimulai dengan Rencana Pela­jaran 1947—kurikulum pertama di RI dan istilah kurikulum belum digunakan. Lalu, Rencana Pelajaran 1954, Kurikulum 1968—kurikulum terintegrasi pertama Indonesia, Kurikulum 1975—kurikulum rinci yang disebut Sunaryo sebagai ”kuri­kulum terbaik pernah dimiliki sis­tem pendidikan nasional Indonesia”, Kurikulum 1984—merupakan pe­nyempurnaan kurikulum 1975 (pada catatan Cucu Magek Dirih, Kuri­kulum 1984 disusun oleh Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional dibentuk Presiden Soeharto tahun 1979 dipimpin Prof Slamet Iman Santoso sebagai Ketua/Ketua LIPI Prof. Tubagus Tivai sebagai wakil ketua, dan bekerja keras selama 14 tahun—Mendikbud Daoed Joesoef menyediakan segala kebutuhan KPPN sampai ditetapkan Kuri­kulum 1984), lalu Kurikulum Ber­basis Kompetensi (KBK) 2004—belum diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia/beberapa sekolah mengujicoba, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006—KBK jiwa KTSP/KTSP mengadopsi KBK—yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan, dan Kurikulum 2013.

Surnaryo berbicara empat hal—Cucu Magek Dirih mencatat layak­nya masih wartawan: pertama, tentang titik-titik kritis pendidikan di Indonesia, antara lain, bahwa pendidikan di Indonesia saat itu dituding sebagai tidak membentuk karakter; perilaku kekerasan di tengah masyarakat; mutu pendi­dikan dianggap rendah: nilai ujian dan pemerintah: test siswa ber­standar internasional; dan kuriku­lum tidak membangun generasi masa depan yang gemilang. Kedua, kurikulum 2013 mestilah tentang penyiapan manusia Indonesia di masa depan; kesalahan bahwa Kuri­kulum 2013 tidak berdasarkan riset: perkembangan manusia dibawa kemana?; gambaran manusia Indonesia 20 tahun ke depan (justru Thailand sudah melakukan, me­miliki gambaran manusia Thailand tahun 2020). Titik kritis lain, leda­kan 60 persen penduduk persen penduduk Indonesia usia 20-50 tahun akan menjadi usia produktif (2034). bonus demografi, bagai­mana penduduk meningkat tajam menjadi bonus benar-benar; bagai­mana dengan PAUD versus per­guruan tinggi, tidak jadi generasi loss (generasi yang khilaf); dan kesanggupan perguruan tinggi meng­­­hasilkan lulusan yang pro­duktif; apa kurikulum 2013 mampu menerapi titik kritis pen­didikan; membangun kesadaran warga Indonesia sebagai warga ASEAN/belum punya strategi masyarakat Asia Raya 2015.

Nah! Seperti apa pendidikan Indonesia tahun 2045? Keberadaan teknologi informasi: TI akan men­jadi kurikulum baru; kehidupan yang semakin kompleks: defisit lingkungan; keniscayaan deter­minasi aspek lokal; defisit ling­kungan memaksa mendorong me­nonjolan aspek/potensi lokal—mendorong perkembangan pro­duksi/perekonomian lokal; mem­bangun kultur berinovasi: berpikir kritis/kecakapan berpikir tinggi, kebersungguhan dan mencari pem­baharuan/melakukan perubahan, melalui proses pendidikan; apa yang dapat diperbuat dengan mengetahui sesuatu; cara kerja berdasarkan komunikasi/kalaborasi; dan bagai­mana Indonesia memasuki pasar kerja global;warga dunia/global, daya saing (living in the world). Dan bagaimana reposisi pendidikan? Calon guru harus dibekali dengan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013, kata Soenaryo, berimplikasi pada kurikulum di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Pen­dekatan kurikulum LPTK harus menekankan metode observasi, nalar dalam sains, sosial, dan bu­daya. Mendikbud M Nuh mem­benarkan hal itu.

Sosialisasi dilakukan di dua lokasi; Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan UPI, dihadiri ribuan guru/kepala sekolah/pengawas se-Jawa Barat. Mendikbud mene­gaskan pendekatan materi yang diajarkan di LPTK bersumber dari Kurikulum 2013. Calon guru diper­kuat materi Kurikulum 2013. LPTK melakukan pendampingan saat pelatihan guru.

Kurikulum 2013 kata Nuh, me­nyiapkan generasi yang kuat dari sisi ilmu, sikap, dan ketrampilan. Meto­de pengajaran lebih mene­kankan pada metode siswa aktif dengan observasi, penalaran, dan analisis. Sunaryo mengatakan tematik inte­gratif di dalam Kurikulum 2013 sudah lama menjadi substansi pem­bahasan di LPTK. Namun, perlu waktu mengimplementasikan pada guru-guru. Sunaryo menegaskan hal utama dalam implementasi Kuri­kulum 2013 adalah memperkuat pemahaman terhadap kurikulum secara utuh sehingga strategi im­plementasi terus membangun pro­ses penyelenggaraan pendidikan, yang tidak hanya makro, tapi, jus­teru mikro: bagaimana imple­men­tasi/evaluasi tidak hanya pada murid/lulusan, bagaimana penye­leng­garaan pendidikan dilaksanakan. (*)

Sumber : Padang Ekpres