Sambutan Kepala Madrasah

Senin, 13 Maret 2017

Guru Profesional Dapat Kembangkan Karakter Anak Didik

BANDUNG, (PRLM).- Guru profesional, sejatinya, dapat mengembangkan karakter peserta didik. Berdasarkan Undang-Undang Guru dan Dosen, posisi guru adalah sebagai pengajar, pendidik, pembimbing, pelatih dan peneliti. Dalam proses pendidikan, sangat diyakini bahwa karakter bangsa dapat dibentuk melalui proses pendidikan. Karakter peserta didik akan berkembang dengan positif, manakala ditunjang oleh guru yang berkarakter pula.

“Atas dasar pemikiran tersebut, dipandang perlu adanya konvensi nasional pendidikan IPS. Konvensi nasional pendidikan IPS, diharapkan dapat menjadi ajang pengukuhan IPS sebagai rumpun pendidikan disiplin ilmu sosial, baik dalam kajian ontologi, epistemologi, maupun aksiologi,” kata Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd, Rektor UPI saat membuka Konvensi Nasional Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (Konaspipsi) ke-1, di Auditorium Fakultas Pendidikan IPS Lantai VI Kampus UPI Jalan Dr. Setiabudi No. 229 Bandung, Rabu (13/7/2011).

Hadir dalam kesempatan itu, Prof. Dr. Mansur Ramli, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Nasional; Prof. Dr. Karim Suryadi ( Dekan FPIPS UPI ); Prof. Dr. Said Hamid Hasan, MA. ( Direktur Sekolah Pascasarjana UPI ), Prof. Dr. Hj. Enok Maryani, M.S. ( Ketua Prodi IPS Pascasarjana UPI ); Prof. Dr. Dadang Supardan ( FPIPS UPI), dan para pimpinan Fakultas ( FPIPS, FISE dan FIS dari berbagai perguraun tinggi di Indonesia).

Peserta yang hadir berjumlah 112 bersala dari STKIP Pasundan Cimahi, UNJ, UNY, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, dan berbagai perguruan tinggi lainnya. Juga hadir staf pengajar/dosen yang tergabung dalam FPIPS, FIS, FISE dan jurusan atau program studi Pendidikan IPS FKIP se-Indonesia, Pusat Kurikulum dan Pusat Perbukuan, P4TK IPS, peminat dan pemerhati pendidikan IPS serta guru-guru IPS (SMP/ MTS dan SMA/SMK/MA).

Rektor Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. mengemukakan, Konvensi Nasional Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (Konaspipsi) ke-1 diharapkan akan berlanjut dengan Konaspipsi ke-2, ke-3, dan seterusnya. Konaspipsi ke-1 mirip dengan peristiwa 27 tahun yang lalu saat dilaksanakan Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia (Konaspi) ke-1. Konaspi ke-1 tersebut akhirnya berlanjut hingga hari ini sehingga dapat menjadi forum menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan. “Konaspi I melahirkan Deklarasi Bandung, kemudian tahun 2008 turut serta menyumbang lahirnya Undang- Undang No. 14 Tahun 2005. Kita berharap, Konaspipsi ini lahir Konaspipsi lainnya, “ katanya.

Menurut Rektor UPI, Konaspipsi menunjukka niat dan komitmen masyarakat akademik memperkokoh keilmuan yang tidak terpisahkan antara IPS pendidikan dan nonpendidikan. Dalam soal ini, UPI melakukan cross fertilisation tetap dipertahankan, dikembangkan dan dibangun dengan asumsi bahwa bidang pendidikan dan non-pendidikan kehadirannya dapat memperkokoh pendidikan dan memberikan warna terhadap ilmu pendidikan. Sehingga, warna dari kaidah pedagogik dapat tetap memancar dalam pendidikan.

“Ini diharapkan dapat menghadirkan pemikiran hasil riset yang cemerlang. Kekuatan ilmu pendidikan dan pendidikan itu sendiri dapat memantapkan cara dan ilmu pendidikan itu sendiri yang memiliki teori dan konsep yang khas serta unik. Ini hanya penegasan saja, bahwa perdampingan tersebut adalah suatu kebutuhan integrasi dalam riset dan proses lainnya,” kata Prof. Sunartyo. (wak/A-147)***

Sumber:Pikiran Rakyat