Sambutan Kepala Madrasah

Minggu, 21 Januari 2018

Prof Sunaryo : Pemetaan Revitalisasi Laboratorium BK

MALANG : Laboratorium merupakan unsur penting yang perlu diperhatikan, untuk peningkatan kualitas Program Studi Bimbingan Konseling di perguruan tinggi. Karena itu sudah saatnya dilakukan revitalisasi terhadap Laboratorium Bimbingan Konseling untuk menunjang peningkatan kualitas layanan pendidikan bagi mahasiswa.

Demikian ditegaskan Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., pakar Bimbingan Konseling dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, saat tampil dalam Seminar dan Lokakarya Nasional. Seminar dan Lokakarya Nasional digelar 3-6 Agustus 2017, di Hotel Atria Malang, diselenggarakan Jurusan Bimbingan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Semiloka Nasional dihadiri 200 orang lebih pakar Bimbingan Konseling dari 74 kampus di Indonesia.

“Dalam kaitan ini perlu ada pemetaan revitalisasi laboratorium bimbingan konseling. Salah satu bidang dalam pemetaan revitalisasi tersebut yakni adanya spektrum laboratorium yang meliputi hal-hal dasar, hal yang fungsional serta riset dan pengembangan laboratorium,” tegas Prof Sunaryo penuh semangat.
Pada pemetaan revitalisasi tersebut, lanjut Prof Sunaryo, fungsi laboratorium Bimbingan Konseling terbagi dalam tiga bidang yakni sebagai sarana pendidikan, penelitian, serta pengabdian dan layanan masyarakat. Dalam kaitan ini capaian pembelajaran yang dijadikan target atau sasaran, yakni meliputi sikap, penguasaan pengetahuan, keterampilan khusus serta keterampilan umum.

Menurut Prof Sunaryo, capaian pembelajaran terkait sikap antara lain bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius. Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam menjalankan tugas, berdasarkan agama, moral dan etika. Berkontribusi dalam peningkatan mutu kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara serta kemajuan peradaban  berdasarkan Pancasila.

Sedangkan penguasaan pengetahuan, tegas Prof Sunaryo, yakni menguasai konsep teoritis tentang bimbingan konseling, pendidikan, psikologi, sosial budaya dan antropologi. Menguasai prinsip dan teknik konseling psikodinamik, humanistik, behavioristik, kognitif, postmoderen dan integratif. Menguasai metodologi penelitian bimbingan konseling berdasar kaidah dan etika ilmiah menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif.

Prof Sunaryo menuturkan, keterampilan khusus di antaranya yakni mampu menyusun program bimbingan konseling yang komprehensif dan memandirikan yang bersifat preventif dan developmental, berdasarkan pada pemikiran yang logis dan kritis. Sedangkan keterampilan umum di antaranya mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu dan terukur. Mampu memelihara dan mengembangkan jaringan kerja dengan pembimbing, kolega, sejawat baik di dalam maupun di luar lembaga. (Zen)

Sumber: www.dutanews.net

Sunaryo : Era Digital, Esensi Pendidikan Tidak Harus Berubah

Bandung, MINA – Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Sunaryo Kartadinata mengatakan, di era digital, esensi dan makna pendidikan tidak harus berubah, melainkan yang berubah adalah pemikiran dalam konteks yang dinamis.

“Karena pendidikan di Indonesia telah memiliki landasan hukum yang jelas yaitu Undang-undang tentang Pendidikan Nasional,” kata Sunaryo saat Dialog Nasional Pendidikan bertema Pembangunan Pendidikan dalam Era Digital di Mansion Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (27/12).

Menurutnya, dalam situasi pembelajaran, peran seorang guru harus bisa memanfaatkan perkembangan digitalisasi untuk mendukung proses pembelajaran sehingga nantinya akan tercipta suasana yang mendorong peserta didik untuk mencapai prestasi yang bermutu, bekerja keras, disiplin, berfikir kreatif serta nilai-nilai lainnya.

Selain esensi tersebut, nilai lokal tidak bisa diabaikan dalam proses pembelajaran, tentunya nilai lokal tersebut harus sesuai dengan suku bangsa masing-masing daerah.

“Guru harus bisa memanfaatkan teknologi informasi dalam membangun suasana pembelajaran yang menyenangkan untuk mendorong peserta didik mencapai prestasi yang bermutu,” tegasnya.

Kegiatan diskusi nasional Pembangunan Pendidikan dalam Era Digital tersebut dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat, perwakilan Bappeda Provinsi ‎Jawa Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat, Rektor dan para Wakil Rektor UPI serta pakar-pakar pendidikan di lingkungan Universitas Pendidikan Indonesia. (R/R05/P1)
Mi’raj News Agency (MINA)

Sumber: www.mirajnews.com

Selasa, 04 April 2017

Menjadi Guru Profesional atau Tidak Sama Sekali

Sarasehan dan Seminar Nasional FIP UNNES 2016 mengusung tema “Menegaskan Jati diri Guru Indonesia”. Tema tersebut penting untuk diusung karena guru sebagai ujung tombak selama ini belum menunjukkan kinerja yang optimal. Terlebih, meskipun sudah memperoleh tambahan ijazah melalui studi lanjut yang diikuti serta sertifikat pendidik, dan memperoleh tunjangan sertifikaasi guru, namun tidak berdampak signifikan terhadap kinerjanya. Di sisi lain guru dengan pandangan bahwa dirinya adalah pekerja, melakukan pekerjaan sesuai dengan bayaran yang diterima. Sebelum memasuki acara inti, Dr. Edy Purwanto, M.Si selaku Ketua Panitia memberikan sambutan. Beliau menggaris bawahi kompetensi kepribadian pendidik adalah aspek penting selain kompetensi profesional. Selanjutnya, mewakili Rektor Universitas Negeri Semarang, Prof. Dr. Mungin Eddy Wibowo, M.Pd., Kons. menyambut dan membuka acara sarasehan dan seminar nasional. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan pentingya peran guru dalam membentuk adab siswa. Dalam perspektif sejarah, sulit untuk tidak mengakui peran guru dalam mengantarkan peradaban umat manusia dari peradaban pra-modern menuju peradaban modern seperti sekarang ini.

Dr. E. Nurzaman A.M., M.Si., M.M. pembicara dari Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Beliau menuturkan empat isu utama tentang guru yaitu; kualitas dan kuantitas, kualifikasi dan kompetensi, distribusi, dan kesejahteraan. Terkait dengan tema seminar dan sarasehan, menurut beliau, kompetensi kepribadian guru di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Guru ideal adalah yang memiliki karakter pembelajar. Guru pembelajar mengembangkan dirinya dimanapun dan kapanpun. Pengembangan yang dilakukan bukan karena sertifikasi, karir, atau kepala sekolah, namun karena telah menjadi bagian inheren konsep-dirinya. Namun pada kenyataannya, tidak semua guru memiliki karakter pembelajar. Hasilujian kompetensi guru (UKG) Nasional 2015 menunjukkan itu. “sebanyak 305 (59%) Kabupaten/kota luar Jawa di bawah standar kompetensi minimal (SKM)” Tandas Nurzaman.Maka, untuk meningkatkan kompetensi guru, program pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) diselenggarakan melalui pemberdayaan kelompok kerja guru (KKG), musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), dan program peningkatan kompetensi guru pembelajar. Nurzaman menegaskan kompetensi kepribadian sangat menunjang profesionalitas guru sehingga kedepannya hanya ada dua pilihan “menjadi guru profesional atau tidak sama sekali”.


Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung menjadi pembicara berikutnya dalam seminar yang digelar di hotel Pendanaran semarang. Tema yang dibawakan adalah “Penguatan Jati Diri Guru Penyiapan Generasi Unggul”. Beliau  memperkuat uraian pembicara pertama mengenai pentingnya mutu guru sebagai ujung tombak pendidikan nasional. “Guru yang ideal adalah mereka yang ber-jatidiri danber-misi, tidak hanya sekedar menggugurkan kewajiban profesinya” Tegas Sunaryo. “Guru, selain melakukan transfer of knowledge juga memiliki misi merubah perubahan perilaku peserta didik secara sistematis dan profesional” tambahnya. Misi tersebut menjadi sedemikian fundamental karena hari ini -dan kedepannya, para guru akan mendidik siswa-siswa yang dikarakteristiki oleh generasi Z (gen Z), yaitu generasi yang telah akrab dengan gadget sejak kecil sehingga secara tidak langsung mempengaruhi kepribadiannya. Gen Z, melalui gadgetnya, dapat dengan mudah mengakses berbagai informasi dari penjuru dunia. Keberlimpahan informasi di dunia maya serta keakraban siswa dengan gadget, perlu direspon guru dengan merubah kecakapan-kecakapan yang harus dimiliki siswa. Salah satunya adaah kecakapan ways of thinking. Kecakapan tersebut lebih menekankan siswa untuk berfikir kritis dan kreatif supaya tepat dalam menggunakan berbagai informasi yang tersedia.Pada titik tersebut, fungsi guru sangat dibutuhkan. Hal itu juga bentuk respon Sunarya terhadap pendapat bahwa konten internet akan melemahkan peran guru dalam proses pembelajaran siswa. Untuk merespon tantangan dunia pendidikan abad XXI, menurut Sunarya, “dibutuhkan guru-guru yang betah tinggal di sekolah untuk memfasilitasi pembelajaran siswa”. Sesuatu tantangan tersendiri bagi guru-guru yang selama ini bekerja sebatas menggugurkan kewajiban profesinya. Menutup penjelasannya, Sunaryo mendukung statemen Nurzaman “be a good teacher or leave it all”.


Speaker terakhir Dr. Anwar Sutoyo, M.Pd dari jurusan Bimbingan dan Konseling FIP UNNES membawakan materi “Nilai-nilai spiritual dalam pelaksanaan tugas guru”. Materi yang dibawakan lebih sublime karena menyangkut dimensi esoteris guru sebagai makhluk yang berTuhan. Anwar menegaskan tugas-tugas guru tidak hanya berdimensi profesional namun juga spiritual. “Ada muatan-muatan ibadah dalam setiap tugas guru” jelasnya.Menurut Anwar, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama. Lebih jauh, bilamana seorang guru membagikan ilmu yang bermanfaat pada murid-muridnya, dan pada gilirannya, murid-murid tersebut membagikan apa yang mereka peroleh dari gurunya pada orang lain -dan seterusnya, maka rantai manfaat dari ilmu tersebut akan semakin meluas serta berlipat ganda. Pada spektrum di atas, kegiatan mendidik dapat dimaknai sebagai ibadah. Tidak hanya itu, Anwar mengarisbawahi, agar pekerjaan sebagai guru bernilai ibadah seyogyanya selalu didasarkan pada niat mencari ridho-NYA, bertindak dan berkata yang baik, tidak pamer, tidak mengungkit-ungkit, serta tidak menyakiti. Selama niat utama masih disandarkan pada niat pengguguran tugas profesional, pemenuhan syarat setifikasi dan semacamnya, maka pekerjaan tidak bermakna spiritual namun material. (AHFA)

Rabu, 29 Maret 2017

Prof. Sunaryo Kartadinata

Oleh : H. Sutan Zaili Asril
Wartawan Senior Harian Pagi Padang Ekspres




Sungguh Cucu Magek Dirih terkaget-kaget mengikuti/ mendengarkan/mencermati kuliah umum Sunaryo Kartadinata yang menandai pembukaan semester ganjil Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang di Kampus Sudirman Padang, Sabtu 15 September 2013. Kaget karena pada kapasitasnya sebagai Rektor UPI/Ketua Umum PB ISPI, ia tak terlibat/dilibatkan Mendikbud M Nuh dalam penyusunan Kurikulum 2013; karena pada dasarnya, ternyata, ia menolak kurikulum 2013—karena sudah jadi kebijakan yang tergopoh ia mengusulkan supaya dilakukan langkah pilotting kurikulum 2013; dan sesungguhnya tidak ada yang salah/perlu diubah pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas—kecuali karena tak ada kata/kalimat ”pendidikan karakter” yang mencuat secara latah. Sesungguhnya, berdasarkan kapasitas/penguasaan masalah dan posisinya, Sunaryo selayaknya memangku posisi yang mengambil kebijakan sistem pendidikan nasional—Cucu Magek Dirih yang memimpikan demikian.

SEBAGAI mahasiswa pas­ca­sarjana pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, Cucu Magek Dirih merasa sangat beruntung dapat hadir/mengikuti kuliah umum dengan Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Dr H Sunaryo Kartadinata MPd, Sabtu (15/9) di kamopus Sudirman Padang—pada tempatnya Direktur Pascasarjana Prof Awiskarni/Rektor Prof Makmur Syarif men­datang­kannya untuk memberikan studium general tahun semester ganjil 2013. Topik kuliah umum tentang Kuri­kulum 2013 yang sedang diber­lakukan pada 6.500 unit sekolah dasar/sekolah menengah pertama/sekolah menengah atas/sederajat di seluruh daerah Indonesia terhitung medio Agustus 2013. Mendikbud Mohammad Nuh pula menam­pak­kan antusiasmenya dengan menye­but: selain 6.500 unit sekolah yang diikutkan dalam pelaksanaan Ku­rikulum 2013, juga ada banyak lagi sekolah negeri/swasta yang ber­keinginan ikut serta. Dalam kuliah umum Prof Surnayo me­nyampaikan pandangan dan rekomendasi, yang di antaranya membuat Cucu Magek Dirih terkaget-kaget.

Sunaryo Kartadinata lahir di Ciamis, Jabar, 21 Maret 1950 (umur 63 tahun), seorang guru besar UPI (dulu IKIP Bandung) dan rektor UPI periode 2005-2010/2010-2015, yang juga Ketua Umum Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) periode 2009-2014. Ahli ilmu bim­bingan konseling pendidikan ini meraih master bimbingan konseling pada IKIP Bandung (1983), sandwich program di University of New York (1986), dan gelar doktor dalam ilmu bimbingan konseling IKIP Bandung (1988). Sunaryo, Ketua Umum PB Asosiasi Bimbingan Konseling (ABKIN, 2001-2006), Ketua II ISPI di Jakarta (2004-2009), Ketua Majelis Eksekutif Asosiasi LPTK Indonesia (2005-2010), Ketua Umum Forum Pendi­dikan Anak Usia Dini Jawa Barat (2006-2011), Pengurus Ikatan Cen­dekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Bidang Pendidikan dan Pengem­bangan SDM (2010-2015), Ketua Umum ISSE Bandung (2002-seka­rang), Ketua Dewan Pembina PB Musyawarah Guru Bimbingan Kon­seling (MGBK, 2012-sekarang), Dewan Penasihat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jabar (2012-sekarang), dan Ketua Umum ISPI (2009-sekarang).

Sebagai pakar, Soenaryo dite­mukan dua buku ditulisnya. Yaitu, Sunaryo Kartadinata, Membangun Keutuhan Bangsa Melalui Pen­didikan dalam Bingkai Utuh Sistem Pendidikan Nasional, UPI, 2009; Sunaryo Kartadinata, Mewujudkan visi Leading and Outstanding dalam Pendidikan Tenaga Kependidikan, UPI, 2008. Karena memper­tim­bangkan empat buku lain yang berkaitan dengan keberadaan/peran Sunaryo, maka Cucu Magek Dirih membeli satu buku pertama. Empat buku berkaitan adalah: Tim P­engem­bangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Aplikasi Pendidikan Bagian Satu Pendidikan Teoritis, Imtima, 2007; Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Aplikasi Pendidikan Bagian Dua Ilmu Pendidikan Praktis, Imtima, 2007; Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Apli­kasi Pendidikan Bagian Tiga Pen­didikan Disiplin Ilmu, Imtima, 2007; dan Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu & Apli­kasi Pendidikan, Bagian Empat Pendidikan Lintas Bidang, Imtima, 2007. Jadi, walau baru bertemu directly di kuliah umum, Cucu Magek Dirih sudah ”mengenal pikiran” Soenaryo sebelumnya.

Kurikulum perangkat mata pela­jaran/program pendidikan yang dibe­rikan penyelenggara pen­didi­kan, berisi rancangan pelajaran untuk peserta didik/satu periode pendidikan. Perangkat mata pela­jaran disesuaikan keadaan/ke­mam­puan jenjang pendidikan/kebu­tuhan kerja. Waktu kurikulum dise­suaikan maksud/tujuan sistem pendidikan. Kurikulum untuk me­nga­rahkan pendidikan menuju tu­juan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh. Satu fungsi kurikulum, alat mencapai tujuan pendidikan. Pada kurikulum ada komponen pokok/penunjang saling berkaitan-berinteraksi. Merupakan satu sistem dari berbagai komponen saling berkaitan/tidak bisa dipi­sahkan satu dan lainnya. Para ahli berbeda pendapat menetapkan komponenn kurikulum. Ada yang mengemukakan 5 komponen: kom­ponen tujuan; komponen isi/materi; komponen media (sarana/pra­sa­rana); komponen strategi; dan komponen PBM. Atau 4 komponen: objective/tujuan; knowledges/isi/materi; school learning experiences/interaksi belajar mengajar di seko­lah; evaluation/penilaian. Intinya: tujuan; isi dan struktur kurikulum; strategi pelaksanaan proses belajar mengajar, dan evaluasi.

Fungsi-fungsi kurikulum pendi­dikan: pertama, kurikulum sebagai alat mencapai tujuan pendididkan. Ditentukan: kurikulum alat men­capai tujuan pendidikan nasio­nal, program yang dilaksanakan guru/murid dalam PBM; pedoman guru/siswa dan PBM berjalan dengan baik. Kedua, kurikulum bagi seko­lah: alat mencapai tujuan pendi­dikan; pedoman dalam mengatur semua kegiatan PBM di sekolah: jenis program, cara menye­leng­garakan, siapa bertanggung jawab. Ketiga, kelanjutan tingkat di atasnya (kesinambungan)/mengetahui kuri­kulum di tingkat bawahnya; pe­nyiapan tenaga guru/materi: isi/organisasi/cara mengajar. Keempat, bagi guru yang melaksanakan dan mengembangkan kurikulum. Keli­ma, bagi kepala sekolah/barometer untuk pengukur keberhasilan program sekolah. Keenam, kurikulum bagi pengawas (supervisor): pedo­man, patokan, atau ukuran, pe­nyem­purnaan. Ketujuh, kurikulum bagi masyarakat: tahu akan penge­tahuan/sikap/nilai/keterampilan dibutuhkan apa relevan dan atau tidak. Kedelapan, kurikulum bagi pemakai lulusan: instansi/peru­sahaan dan peningkatan produk­tivitas.

TOPIK yang diketengahkan Su­naryo, Implementasi Kurikulum 2013: Antara Prospek dan Tanta­ngan. Agar agak paham, Cucu men­jajarkan sejarah perkembangan sistem pendidikan nasional Indonesia, dimulai dengan Rencana Pela­jaran 1947—kurikulum pertama di RI dan istilah kurikulum belum digunakan. Lalu, Rencana Pelajaran 1954, Kurikulum 1968—kurikulum terintegrasi pertama Indonesia, Kurikulum 1975—kurikulum rinci yang disebut Sunaryo sebagai ”kuri­kulum terbaik pernah dimiliki sis­tem pendidikan nasional Indonesia”, Kurikulum 1984—merupakan pe­nyempurnaan kurikulum 1975 (pada catatan Cucu Magek Dirih, Kuri­kulum 1984 disusun oleh Komisi Pembaharuan Pendidikan Nasional dibentuk Presiden Soeharto tahun 1979 dipimpin Prof Slamet Iman Santoso sebagai Ketua/Ketua LIPI Prof. Tubagus Tivai sebagai wakil ketua, dan bekerja keras selama 14 tahun—Mendikbud Daoed Joesoef menyediakan segala kebutuhan KPPN sampai ditetapkan Kuri­kulum 1984), lalu Kurikulum Ber­basis Kompetensi (KBK) 2004—belum diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia/beberapa sekolah mengujicoba, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006—KBK jiwa KTSP/KTSP mengadopsi KBK—yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan, dan Kurikulum 2013.

Surnaryo berbicara empat hal—Cucu Magek Dirih mencatat layak­nya masih wartawan: pertama, tentang titik-titik kritis pendidikan di Indonesia, antara lain, bahwa pendidikan di Indonesia saat itu dituding sebagai tidak membentuk karakter; perilaku kekerasan di tengah masyarakat; mutu pendi­dikan dianggap rendah: nilai ujian dan pemerintah: test siswa ber­standar internasional; dan kuriku­lum tidak membangun generasi masa depan yang gemilang. Kedua, kurikulum 2013 mestilah tentang penyiapan manusia Indonesia di masa depan; kesalahan bahwa Kuri­kulum 2013 tidak berdasarkan riset: perkembangan manusia dibawa kemana?; gambaran manusia Indonesia 20 tahun ke depan (justru Thailand sudah melakukan, me­miliki gambaran manusia Thailand tahun 2020). Titik kritis lain, leda­kan 60 persen penduduk persen penduduk Indonesia usia 20-50 tahun akan menjadi usia produktif (2034). bonus demografi, bagai­mana penduduk meningkat tajam menjadi bonus benar-benar; bagai­mana dengan PAUD versus per­guruan tinggi, tidak jadi generasi loss (generasi yang khilaf); dan kesanggupan perguruan tinggi meng­­­hasilkan lulusan yang pro­duktif; apa kurikulum 2013 mampu menerapi titik kritis pen­didikan; membangun kesadaran warga Indonesia sebagai warga ASEAN/belum punya strategi masyarakat Asia Raya 2015.

Nah! Seperti apa pendidikan Indonesia tahun 2045? Keberadaan teknologi informasi: TI akan men­jadi kurikulum baru; kehidupan yang semakin kompleks: defisit lingkungan; keniscayaan deter­minasi aspek lokal; defisit ling­kungan memaksa mendorong me­nonjolan aspek/potensi lokal—mendorong perkembangan pro­duksi/perekonomian lokal; mem­bangun kultur berinovasi: berpikir kritis/kecakapan berpikir tinggi, kebersungguhan dan mencari pem­baharuan/melakukan perubahan, melalui proses pendidikan; apa yang dapat diperbuat dengan mengetahui sesuatu; cara kerja berdasarkan komunikasi/kalaborasi; dan bagai­mana Indonesia memasuki pasar kerja global;warga dunia/global, daya saing (living in the world). Dan bagaimana reposisi pendidikan? Calon guru harus dibekali dengan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013, kata Soenaryo, berimplikasi pada kurikulum di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Pen­dekatan kurikulum LPTK harus menekankan metode observasi, nalar dalam sains, sosial, dan bu­daya. Mendikbud M Nuh mem­benarkan hal itu.

Sosialisasi dilakukan di dua lokasi; Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan UPI, dihadiri ribuan guru/kepala sekolah/pengawas se-Jawa Barat. Mendikbud mene­gaskan pendekatan materi yang diajarkan di LPTK bersumber dari Kurikulum 2013. Calon guru diper­kuat materi Kurikulum 2013. LPTK melakukan pendampingan saat pelatihan guru.

Kurikulum 2013 kata Nuh, me­nyiapkan generasi yang kuat dari sisi ilmu, sikap, dan ketrampilan. Meto­de pengajaran lebih mene­kankan pada metode siswa aktif dengan observasi, penalaran, dan analisis. Sunaryo mengatakan tematik inte­gratif di dalam Kurikulum 2013 sudah lama menjadi substansi pem­bahasan di LPTK. Namun, perlu waktu mengimplementasikan pada guru-guru. Sunaryo menegaskan hal utama dalam implementasi Kuri­kulum 2013 adalah memperkuat pemahaman terhadap kurikulum secara utuh sehingga strategi im­plementasi terus membangun pro­ses penyelenggaraan pendidikan, yang tidak hanya makro, tapi, jus­teru mikro: bagaimana imple­men­tasi/evaluasi tidak hanya pada murid/lulusan, bagaimana penye­leng­garaan pendidikan dilaksanakan. (*)

Sumber : Padang Ekpres

Kamis, 23 Maret 2017

Sunaryo Kartadinata, Dari Pangcalikan Siliwangi ke Bumi Siliwangi

Oleh: Yatun R. Awaliah
Dosen UPI Bandung, tulisan dimuat di Tabloid Pendidikan Ganesha

Sepintas dilihat dari namanya semua orang pasti akan mengira bahwa dia adalah peranakan jawa. Padahal kalau ditelusuri lebih jelas ia merupakan orang sunda asli. Dialah Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., Rektor Universitas Pendidikan Indonesia yang juga menjabat Ketua Umum ISPI 2009-2014 dan 2014-2019.

Awalnya tidak ada yang mengira bahawa lelaki kelahiran Desa Cigintung, Kecamatan Kawali Ciamis 21 Maret 57 tahun silam ini begitu nyunda, hal itupun terbukti pada saat acara launching Majalah Cahara Bumi Siliwangi dan Ronggeng Gunung di UPI dengan fasih Sunaryo memberikan sambutan dalam bahasa sunda yang begitu ngentep seureuh. Bahkan para inohong Sunda yang hadir saat itu, begitu terkejut dengan ucapan dan sikap sunaryo yang kental dengan adat kesundaan.

“Saya tidak menyangka ia begitu kental adat kesundaanya, dalam berbicara memang ia pun begitu ngentep seureuh dan dalam menggunakan undak-usuk basa pun sangat fasih,” ujar Karna Yudibrata, salah seorang inong Sunda yang hadir saat itu.

“Belajar bahasa sunda memang dari kecil, semenjak SD sampai sekolah SPG di Ciamis,” jawab putra sulung dari empat bersaudara pasangan H. Sukarta dan Hj Surliah ini, saat ditanya akan hal tersebut.

Kehidupan Sunaryo tidak langsung sukses begitu saja, dengan memegang jabatan penting seperti saat ini. Tetapi ia memulai semuanya dari nol.

Sunaryo mengawali pendidikan formalnya pada tahun 1957 di SDN 2 Talagasari. Hidup sebagai anak petani dilewatinya dikampung halaman tercinta. Masih terbayang dalam benaknya bagai mana waktu itu, meskipun masih kecil ia harus ikut membantu orangtuanya membajak sawah dan mengembala kambing yang merupakan mata pencarian utama keluarga.

Saat menempuh jalur pendidikan di SMP 1 kawali tahun 1963, Sunaryo memiliki tradisi yang sangat unik. Bila berangkat ke sekolah ia tidak pernah menggunakan alas kaki alias nyeker, dan barulah setelah sampai kesekolah ia pergunakan sepatunya.

“Jarak dari rumah ke sekolah kan lima kilometer dilalui dengan berjalan kaki, jadi supaya sepatunya awet, ya biasanya jarang dibawa pulang. Suka disimpan saja, di titipkan di Ibu pemilik warung sekolah, dan digunakan hanya saat sekolah saja. Selain itu juga biasanya kalau mau pergi ke sekolah saya selalu mebekal karung di tas. Kan biasanya sambil pulang sekoal itu sambil ngala rumput untuk kambing. ” kenangnya.

Meskipun tergolong dari keluarga yang pas-pasan, tapi hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus bersekolah. Malah hal tersebut dijadikan Sunaryo sebagai motivasi agar kelak menjadi orang sukses dan dicontoh oleh adik-adiknya. Hal itu ia buktikan setelah lulus dari SPG Ciamis tahun 1970 dengan melanjutkan ke jurusan Bimbingan Penyuluhan IKIP Bandung.

Kesempatan untuk meraih cita-cita sebagai seorang guru mulai terbuka tatkala lulus pogram diploma ia dipercaya untuk menjadi asisten dosen di almamaternya sendiri sembari melanjutkan kuliah diprogram sarjana.

Semasa kuliah, Sunaryo dimata teman-temanya sebagai sosok yang begitu pintar dan berprestasi. Hal itulah yang menjadikan modal utamanya untuk mempersunting teman sekelasnya sendiri, yang bernama Dra. Euis Misyeti, M.Pd.

“Kami teman sekelas, ya biasanyakan dia (Euis–red) suka kesiangan kalau kuliah. Nah biasanya, saya itu selalu menyiapkan kursi kosong disamping saya khusus buat dia, ya karena sering begitu Dosen pun akhirnya pada tahu ‘itu kursi buat Euis ya’. Dan teman-teman sekelas suka mneggosipkan kami. Dia awalnya agak marah dengan keadaan itu. Tapi ya lama kelamaan takluk juga,” jelasnya sambil tertawa terkenang masa lalu, tatkala menceritakan pengalaman masa mudanya bersama sang istri.

Karir akademik Sunaryo berawal pada tahun 1978 saat dipercaya menjadi Sekretaris Jurusan BP FIP IKIP dan kemudian menjadi ketua Jurusan BP FIP IKIP. Hal itu ia lakukan sambil melanjutkan kuliah diprogram pascasarjana. Namun, beberapa tahun kemudian ia berhenti karena harus konsentrasi melanjutkan kuliah di Program S3 Bimbingan konseling yang saat itu lulus masuk tanpa tes.

Saat menempuh pendidikan S3 merupakan momen yang paling berharga bagi Sunaryo karena dengan program sandwich mengharuskannya menempuh beberapa SKS di State University of New York. Saat itulah untuk pertamakalinya Sunaryo bisa mengunjungi Amerika yang sejak dulu diimpikannya.

Selama enam bulan ia berada di Amerika untuk menimba ilmu dan harus rela meninggalkan istri tercinta yang saat itu sedang mengandung anak ke-3.

“Saat anak ketiga lahir, saya tidak berada disamping istri, menyaksikan kelahirannya karena berada di Amerika,” ungkap ayah dari tiga orang anak yang juga merupakan kakek dari empat cucu ini.

Sepulang dari Amerika, karir Sunaryo semakin bertambah dengan dipercaya sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Pendidikan dan beberapa bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 13 September 1988 ia lulus program doktoral dengan nilai cum laude.

Saat mengemban amanah sebagai Pembantu Rektor II, pada bulan Agustus 1996 Sunaryo dikukuhkan sebagai Guru Besar Psikologi dan Bimbingan Konseling dengan judul orasi ”Pendekatan psikologi dalam bimbingan konseling”.

Tahun 2005 merupakan puncak karir bagi Sunaryo dengan mendapatkan amanah menjadi “nakhoda” Universitas Pendidikan Indonesia masa bakti 2005-2010. Ia merupakan Rektor UPI BHMN pertama yang dipilih oleh stike holder-nya.

Perjalanan dari Kawali ke Bumi Siliwangi, begitu benar-benar dinikmati oleh Sunaryo. Baginy komitmen yang paling penting dalam hidupnya bahwa ia harus terus berusaha dan memberikan yang terbaik.

“kiat suksesnya sih, ya terus berusaha, berdo’a dan bersyukur. Kemudian jangan lupa motivasi yang paling utama dan kuat adalah dari istri. Mungkin saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini kalau tidak didukung oleh motivasi dan dorongan istri saya” pungkasnya.


Mencari Bentuk Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh: Sunaryo Kartadinata
Profesor Ilmu Pendidikan, Universitas Pendidikan Indonesia

Nation and Character Building yang ditegaskan Bung Karno dalam membangun bangsa ini adalah hal yang amat filosofis dan menyangkut pengembangan esensi pembangunan sumber daya manusia. Pembangunan politik, ekonomi, hukum, kemananan serta penguasaan sains dan teknologi harus menyatu dengan pembangunan karakter manusia sebagai pelaku dari politik, ekonomi, hukum, dan pengembang serta pengguna sains dan teknologi, agar berujung pada kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia. 

Pembangunan karakter yang pada saat ini menjadi salah satu perhatian kuat pemerintahan SBY, yang menjadi salah satu tugas utama Depdiknas, harus disambut baik dan dirumuskan langkah - langkah sistematik dan kompre hensif. Pendidikan karakter harus dikembangkan dalam bingkai utuh Sistem Pendidikan Nasional seb agai rujukan normatif, dirumuskan dalam sebuah kerangka pikir utuh, yang dalam tulisan ini dirumuskan ke dalam sembilan ayat kerangka pikir pendidikan karakter dalam bingkai Sisdiknas. 

Pertama, karakter bangsa bukan agregasi karakter perorangan, karena karakter bangsa harus terwujud dalam rasa kebangsaaan yang kuat dalam konteks kultur yang beragam. Karakter bangsa mengandung perekat kultural, yang harus terwujud dalam kesadar an kultural (cultural awareness) dan k e cerdasan kultural (cultural intelligence) setiap warga negara. Karakter menyangkut perilaku yang amat luas karena di dalamnya terkandung nilai - nilai kerja keras, kejujuran, displin mutu, estetika, komitmen, dan rasa k ebangsaan yang kuat. Perlu dirumuskan esensi nilai - nilai yang terkandung dalam makna karakter yang berkar pada filosofi dan kultur bangsa Indonesia dalam konteks kehidupan antar bangsa. 

Kedua, pendidikan pengembangan karakter adalah sebuah proses berkelan jutan dan tak pernah berakhir (never ending pro cess) selama sebuah bangsa ada dan ingin tetap eksis. Pendidikan karakter harus menjadi baha gian terpadu dari pendidikan ali h generasi. Pendidikan adalah persoalan kemanusiaan yang harus dihampiri dari perkem bangan manusia itu sendiri. Oleh karena itu perlu diketahui dan dirumuskan secara utuh sosok generasi manusia Indonesia masa depan. Riset komprehensif perlu dilakukan untuk merumuskan sosok manusia Indonesia masa depan sebagai landasan pendidikan dan penge mbangan karakter bangsa. Riset dimaksud mesti berakar pada filosofi dan nilai - nilai kulutral bangsa Indonesia dalam konteks kehidupan antar bangsa dan perkembangan sains dan teknologi. 

Ketiga, pasa l 1 (3) dan pasa l 3 UU No. 2 0/2003 tentang Sisdiknas adala h landasan legal formal akan keharusan membangun karakter bangsa melalui upaya pendidikan. Ada tiga ranah tujuan pendidikan yang dapat diinferensi dari makna yang terkandung dalam Pasal dan ayat dimaksud, yaitu: (1) watak dan peradaban bangsa yang bermart abat yang berland askan nilai - nilai Pancasila dan agama sebagai tujuan eksistensial pendidikan, yang (2) melandasi pencerdasan kehidupan bangsa sebagai tujuan kolektif yang di dalamnya mengandung kecerdasan kultural , karena kecerdasan kehidupan bangsa buka nlah agregasi kecerdasan perorangan atau individual, dan (3) melalui pengembangan potensi peserta didik sebagai tujuan individual. Tiga ranah tujuan ini harus dicapai secara utuh melalui proses pendidikan dalam berbagai jalur dan jenjang. Proses pendidi kan, yang secara mikro terwujud da lam proses pembelajaran, harus dibangun sebagai sebuah proses transaksi kultural yang harus mengembangkan karakter sebagai bahagian yang terintegrasi dari peng ambangan sains, teknologi dan seni , dan tidak terjebak pada pro ses pendidikan di tingkat tujuan individual. 

Keempat, proses pembelajaran sebagai wahana pendidikan dan pengembangan karakter yang tak terpisahkan dari pengembangan kemampuan sains, teknologi, dan seni telah dirumuskan secara amat bagus sebagai landasan legal pengembangan pembelajaran dalam Pasal 1 (1) UU No. 20/2003. Yang belum terjadi saat ini adalah pemaknaan secara tepat dan utuh dari pasal ayat dimaksud yang mengiringi kebijakan dan praktek penyelenggaraan pendidikan secara utuh pula . P endidikan ting kat individual yang pada saat ini mendominasi sistem penyelenggaraan pendidikan di tanah air perlu direformasi dan direvitasiliasi sehingga menjadi bahagian yang tidak terpisahkan dan bahkan harus menjadi wahana utama bagi pendidikan dan pengembangan karak ter. Proses pembelajaran perlu dikembalikan kepada khitahnya sebagai proses mendidik. 

Kelima, proses pembelajaran yang mendidik sebagai wahana pendidikan karakter , perlu dibangun atas makna yang terkandung dalam Pasal - pasal dan ayat yang disebutkan, dan se cara konsisten menjadi landasan dan kebijakan penyelenggaraan pembelajaran , termasuk kurikulum dan sistem manajemen . Ilmu mendidik dan ilmu pendidikan yang dikembangkan para ahli pendidikan di LPTK, (dulu IKIP dan kini sudah menjadi Universitas), dalam lim a dekade terakhir di Republik ini dirasa tetap relevan dengan kepentingan pendidikan karakter serta pemaknaan dan perumusan regulasi dan kebijakan pendidikan . Perlu reposisi dan reinvensi ilmu mendidik dan pendidikan di dalam pendidikan karakter dan di dal am melahirkan regulasi - regulasi dan kebijakan pendidikan, dengan dukungan political will , yang pada saat ini keberadaan dan peran ilmu pendidikan sudah banyak dilupakan. Perlu revitalisasi LPTK dengan menempatkan penguatan ilmu pendidikan sebagai ilmu menj adi salah satu fokus utama dar i revitalisasi itu. 

Keenam, proses pendidikan karakter akan melibatkan ragam aspek perkembangan peserta didik, baik kognitif, konatif, afektif, maupun psikomotorik sebagai suat u keutuhan (holistik) dalam konteks kehidupan kult ural . Proses pembelajaran yang membangun karakter tidak bisa sebagai proses linier layaknya dalam pembelajaran kebanyakan bidang studi yang bersifat transformasi informasi, walaupun sesungguhnya itu keliru, tapi tidak bisa juga berwujud menjadi sebuah mata pelajaran “pendidikan karakter’ yang diajarkan sebagai sebuah bidang studi. Karakter tidak bisa dibentuk dalam perilaku instan yang bisa di - olimpiadekan. Pengembangan karakter harus menyatu dalam proses pembelajaran yang mendidik, disadari oleh guru sebag ai tujuan pendidikan, dikembangkan dalam suasana pembelajaran yang transaksional dan bukan instruksional , dan dilandasi pemahaman secara mendalam terhadap perkembangan peserta didik. Suasana pembelajaran ini akan menumbuhkan nurturan effect pembelajaran ya ng di dalamnya termasuk pengembangan karakter, soft skills d an sejenisnya seiring dengan pe ng embangan pengetahuan dan keterampilan yang dikembangkan dalam pembelajaran itu. Inilah sesungguhnya esensi dari kompetensi dan kinerja guru profesional yang dalam pelaksanaannya harus didukung oleh kebijakan yang tepat tentang pembelajaran. Pembelajaran dibangun sebagai proses kultural, dan pendidik /guru adalah “ perekayasa ” kultur pembelajaran dan sekolah . Perlu dikembangkan kultur sekolah sebagai ekologi perkemban gan peserta didik dengan segala perangkat pendukungnya. 

Ketujuh, sekolah sebagai lingkungan pembudayaan peserta didik dan guru sebagai “perekayasa” ku l tur sekolah tidak terlepas dari regulasi, kebijakan, dan birokrasi. Kebijakan dan birokrasi harus dita ta dan disiapkan untuk mendukung terwujudnya pendidikan karakter melalui pengembangan ku l tur pembelajaran dan sekolah sebagai ekologi perkembangan peserta didik. Perlu reformasi mind set para birokrat pendidikan, di tingkat pusat maupun daerah, sehingga mampu melihat dan memposisikan pendidikan sebagai proses membangun karakter, membangun kutur sekolah secara waras, dan mengubah perilaku birokrasi atas dasar pemahaman secara benar tentang esensi pendidikan. Reformasi mind set ini perlu didukung oleh polit ical will yang kuat dari Pemerintah Pusat dan Daerah, dan memposisikan pendidikan bukan sebagai proses birokratik dan administratif semata yang bisa membuat pendidikan bergeser menjadi ranah dan beban politik daripada sebagai layanan profesional yang seja ti. Guru perlu dibina menjadi penyelenggara layanan profesional sejati , yang tanggung jawab utamanya ada di Pemerintah daerah, dan p ara calon guru harus dididik dengan landasan keilmuan pendidikan dan pendidikan disiplin ilmu yang kokoh yang tanggung jawab utamanya ada di LPTK. 

Kedelapan, pendidikan karakter adalah pendidikan sepanjang hayat, sebagai proses perkembangan ke arah manusia kaafah. Oleh karena itu pendidikan karakter memerlukan keteladan dan sentuhan mulai sejak dini sampai dewasa. Periode yang paling sensitif dan menetukan adalah pendidikan dalam keluarga yang menjadi tanggung jawab orang tua. Pola asuh atau parenting style adalah salah satu faktor yang secara signifikan turut membentuk karakter anak. Pendidikan dalam keluarga adalah pendidikan utama dan pertama bagi anak, yang tidak bisa digantikan oleh lembaga pendidikan manapun. Oleh karen a itu pendidikan dalam keluarga , untuk membangun sebuah community of learner tentang pendidikan anak , perlu menjadi sebuah kebijakan pendidikan dalam upay a membangun karakter bangsa secara berkelanjutan. 

Kesembilan, pendidikan karakter akan harus bersifat multi level dan multi cha n ne l karena tidak mungkin hanya dilaksanakan oleh sekolah. Pembentukan karakter perlu keteladan an , perilaku nyata dalam seting kehidupan otentik dan tidak bisa dibangun secara instan. Oleh karena itu pendidikan karakter harus menjadi sebuah gerakan moral yang bersifat holistik, melibatkan berbagai pihak dan jalur , dan berlangsung dalam seting kehidupan alamiah . Namun , yang harus di hindari jangan sampai tersesat menjadi gerakan dan ajang politik yang pada akhirnya hanya akan membentuk perilaku - perilaku formalistik - pragmatis yang berorientasi kepada asa s manfaat sesaat, yang justru akan semakin merusak karakter dan martabat bangsa .

Rabu, 22 Maret 2017

Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata Luncurkan Buku Terbaru

RMOLJabar. Rektor UPI Prof. Dr.Sunaryo Kartadinata. M.Pd meluncurkan buku terbarunya yang berjudul "Politik Jati Diri; Telaah Filosofi dan Praksis Pendidikan bagi Penguatan Jati Diri Bangsa" pada Selasa (9/9).

Dalam buku tersebut, berisi tentang perjalanan pemikirannya yang berupa tulisan kumpulan sejak tahun 2004. Keanekaragaman merupakan jati diri bangsa.

Keanekaragaman di Indonesia sangat bebeda dengan keanekaragaman di Amerika. Beragam budaya di Amerika terjadi karena banyaknya imigran dari negara lain.

Keberagaman budaya di Indonesia terjadi sejak jaman kerajaan. Politik jati diri sesungguhnya adalah argumen politik. 

Politik berpikir tentang perkembangan bangsa ini yang didasarkan pada jati diri yang mempunyai keterkaitan dengan sejarah, falsafah, ras, bahasa, seni, sistem keyakinan, orientasi kehidupan, tradisi, dan estetika.

Arus globalisasi dinilai dapat melunturkan jati diri bangsa. Inovasi yang terjadi sesungguhnya adalah proses adaptasi manusia terhadap dunia yang dituntut oleh arus globalisasi yang semakin dinamis.

Prof. Dr. Sunaryo disebut-sebut sebagai kandidat kuat calon menteri pada pemerintahan Jokowi-JK.

Ditanya tentang hal tersebut, Sunaryo tak banyak berkomentar.
"Jangan berandai-andai, pokoknya kita hadapi sekarang. Ini kan bukan tugas sesaat, Jadi kita lihat saja nanti,"ungkapnya ketika ditemui di
Gedung BPU UPI Bandung.[ai]

Sumber:www.rmoljabar.com