Sambutan Kepala Madrasah

Senin, 31 Januari 2022

Sumbangkan Buku Bahasa Indonesia untuk Tashkent State Institute of Oriental Studies

Penyerahkan 170 buku dan 450 kamus saku Indonesia-Uzbek ke Tashkent State Institute of Oriental Studies (TSIOS), kampus yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama.

TASHKENT– Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kerja sama pendidikan dan minat mahasiswa dalam belajar Bahasa Indonesia, Dubes RI Tashkent Y.M. Bpk. Sunaryo Kartadinata menyerahkan 170 buku dan 450 kamus saku Indonesia-Uzbek saat berkunjung ke Tashkent State Institute of Oriental Studies (TSIOS) (30/01/2020).

Di kampus, yang menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama tersebut, Dubes RI disambut dengan hangat oleh Rektor TSIOS, Mrs. Gulchekhra Rikhsievapada beserta jajarannya, yaitu Wakil Rektor Bidang Internasional dan Dekan Fakultas Filologi.

Rektor TSIOS menyampaikan bahwa saat ini kegiatan belajar mengajar Bahasa Indonesia semakin berkembang dan maju dibandingkan sebelumnya, terutama sejak kedatangan Dosen BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) yang dikirim oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak tahun 2018. Selain itu, disampaikan bahwa di TSIOS sudah terdapat Pusat Indonesia, yang diharapkan menjadi pusat untuk mengembangkan berbagai disiplin kajian ilmu lain selain bahasa, seperti ekonomi, politik, hukum.

Menyambut hal tersebut, Dubes RI menyampaikan apresiasinya bahwa Bahasa Indonesia telah diperhitungkan sebagai bahasa pertama. Dubes RI juga menyambut gembira bahwa Pusat Indonesia, yang meningkatkan jumlah peminat mahasiswa belajar Bahasa Indonesia, ingin dikembangkan lebih jauh dari sekedar pusat pembelajaran bahasa, melainkan bidang lain, yang ke depannya dapat meningkatkan hubungan people-to-peole contact.

 “Dengan kehadiran buku-buku dari UPI tersebut diharapkan lebih banyak mahasiswa yang tertarik untuk belajar bahasa Indonesia. Bahkan, tidak hanya untuk mempelajari bahasa dan budaya Indonesia, tetapi juga mempelajari Indonesia secara keseluruhan,” ucap Duta Besar di hadapan Rektor.

Dalam diskusi turut dibahas mengenai tindak lanjut MoU antar-universitas yang telah ditandatangani, pembelajaran jarak jauh menggunakan TI, dan penjajakan penawaran beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) TA 2020/2021. 

Sumber: KBRI Tashkent

Duta Besar Indonesia Untuk Uzbekistan Dan Kyrgyzstan Sunaryo Kartadinata Jadikan Pencak Silat Perekat Persahabatan


RM.id
  Rakyat Merdeka - Kiprah pencak silat terus menjalar ke sejumlah negara, terutama Asia Tengah dan Eurasia. Duta Besar Indonesia untuk Uzbekistan dan Kyrgystan Sunaryo Kartadinata berharap seni bela diri khas Tanah Air ini bisa menjadi salah satu alat perekat persahabatan antar bangsa.

“Pencak Silat di Asia Tengah dan Eurasia perlu didorong karena sudah semakin diminati,” Dubes Sunaryo saat membuka kejuaraan Pencak Silat se-A sia Tengah dan Eurasia, Sabtu (30/3).

Semangat kedua negara itu dalam bersilat meningkat setelah atlet Uzbekistan dan Kyrgyzstan masing-masing menang 1 dan 2 medali perunggu di Asian Games 2018.

Dubes Sunaryo menekankan, Pencak Silat dapat meningkatkan people-to-people contact, serta menjadi arena untuk membangun hidup damai dan harmoni. Dia berharap kejuaraan pencak silat menarik minat berbagai pihak. Mulai dari swasta hingga Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Olahraga dan Komite Olahraga Nasional.

Kejuaraan diikuti 300 atlet. Pertandingan ini pertama kali diselenggarakan di tingkat Asia Tengah dan Eurasia dengan negara peserta yaitu Uzbekistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Tajikistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Afganistan, Rusia, dan Turki. Bertindak sebagai pihak penyelenggara adalah Federasi Pencak Silat Uzbekistan yang dipimpin Aziz Djurabaev.

Melihat perolehan medali pencak silat Uzbekistan di Asian Games 2018, Aziz Djuarabev menyampaikan optimismenya bahwa Pencak Silat di regional akan semakin maju. Para sponsor pun semakin bertambah. Kejuaraan tersebut digelar untuk menggalang persahabatan di antara negara-negara tetangga Uzbekistan.

Persahabatan menjadi kunci harmonisasi segala sekat perbedaan ekonomi, agama, dan politik. Sebagai simbol harmonisasi tersebut, ditampilkan tarian Nusantara yang merupakan medley dari tarian seluruh daerah Indonesia oleh penari KBRI dan mahasiswi Uzbekistan State University of World Languages.

Kejuaraan yang berlangsung dua hari tersebut dilaksanakan dengan pembagian berdasarkan kategori menurut berat badan, jenis kelamin, umur, dan kelas seperti tunggal, ganda, kelas 39-43 kg, dan 65-70 kg. [DAY]

 

Duta Besar RI Hadiri Peresmian Hotel Sahid Zarafshon di kota Bukhara, Uzbekistan


Bukhara
. Dalam rangka peresmian pembukaan Hotel Sahid Zarafshon di Bukhara, Uzbekistan, Duta Besar RI untuk Uzbekistan merangkap Kyrgyzstan menghadiri acara peresmian pembukaan hotel Sahid Zarafshon di kota Bukhara (03/03/2020).

Peresmian hotel tersebut merupakan kelanjutan dari penandatanganan perjanjian kerjasama pengelolaan hotel Sahid Zarafshon Bukhara antara perusahaan Devel Eco Group LLC (Uzbekistan) dan PT Hotel Sahid Jaya Tbk. (Indonesia) yang telah dilaksanakan pada bulan November 2019.
Acara dibuka oleh sambutan dari Mr. Kamilov Karim Jamalovich (Gubernur Bukhara) dilanjutkan oleh Dubes RI Tashkent, Bpk. Sunaryo Kartadinata, Ibu Sarwo Budi Wiryanti Sukamdani (Komisaris Utama Sahid Group) dan Mr. Nasriddin Rashidov (Presiden Direktur Devel Eco Group LLC).
Hadir mewakili PT Hotel Sahid Jaya Tbk. adalah Bpk. Hariyadi Sukamdani (Direktur Utama Sahid Group), Ibu Exacty B. Sryantoro (Wakil Direktur Utama) dan Ibu Vivi Herlambang (Direktur Pengembangan Bisnis, Penjualan & Pemasaran). Acara pembukaan juga dimeriahkan oleh tarian tradisional Indonesia yang dipertunjukkan oleh staf kesenian dari KBRI Tashkent.
Dalam sambutan pembukaannya, Duta Besar RI menyampaikan bahwa proyek kemitraan antara pengusaha dari kedua negara, Sahid Group Indonesia dan Devel Eco Group LLC, menunjukkan kepercayaan Indonesia dalam potensi pengembangan dan iklim investasi di Uzbekistan. Selanjutnya dijelaskan pula oleh Dubes Sunaryo bahwa besar harapan untuk kerja sama ini dapat terus ditingkatkan dan akan semakin memperkuat ikatan antara kedua negara ke depannya.
“Saya yakin bahwa dengan manajemen dan pengalaman Sahid Group Indonesia, sebuah perusahaan besar yang sangat berpengalaman dalam pembangunan dan pengelolaan kompleks hotel dan lainnya, maka operasional Sahid Zarafshon Hotel di Bukhara ini akan berjalan dengan sangat baik" ujar Dubes Sunaryo.

Hotel Sahid Zarafshon di Bukhara ini juga merupakan hotel pertama dari tiga rencana ekspansi Sahid Group Indonesia di Uzbekistan dimana dua hotel lainnya akan berada di kota Samarkand (satu sebagai pengelola dan satu merupakan kepemilikan penuh dari Sahid Group sebanyak 300 kamar yang akan diresmikan pada tahun 2021.) (Sumber: KBRI Tashkent)

Dubes RI untuk Uzbekistan Serahkan Set Angklung kepada SamSIFL Samarkand


POSKOTAJABAR, SAMARKAND
.

Dalam rangka promosi budaya Indonesia dan melestarikan budaya angklung asal Jawa Barat (Jabar), Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tashkent, Uzbekistan menyerahkan satu set angklung kepada Samarkand State Institute of Foreign Languages (SamSIFL) di Samarkand, Uzbekistan. 

Angklung yang berasal dari Saung Udjo Bandung itu, diserahkan langsung oleh Duta Besar (Dubes RI) untuk Uzbekistan merangkap Kyrgyzstan, Sunaryo Kartadinata, Sabtu (17/04/2021).

"Kami mengharapkan dengan adanya angklung, semakin banyak pemuda-pemudi Uzbekistan yang tertarik dengan budaya dan bahasa Indonesia. Sehingga, budaya kita semakin dikenal di Uzbekistan dan Kyrgyzstan," kata Sunaryo Kartadinata dalam rilis dari KBRI Uzbekistan dan yang diterima POSKOTAJABAR, Rabu (21/04/2021).

Menurut Dubes Sunaryo Kartadinata, sejalan dengan makin eratnya hubungan antara Indonesia dengan Uzbekistan, pihak Samarkand State Institute of Foreign Languages di Samarkand, Uzbekistan memasukan mata kuliah Bahasa Indonesia.

"Ini sangat membanggakan karena ternyata masyarakat Uzbekistan, khususnya perguruan tinggi, sangat tertarik dengan Indonesia. Sehingga, di institut tersebut mahasiswa Uzbekistan mempelajari Bahasa Indonesia sebagai salah satu mata kuliah," ujar Sunaryo.

Diungkapkan Dubes Sunaryo, pemerintah Indonesia melalui Program BIPA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemndikbud) setiap tahun mengirim guru BIPA ke Uzbekistan.

Sementara itu, Rektor SamSIFL, Mr. Ilkhomjon Tukhtasinov, mengatakan, acara ini merupakan momentum yang besar dalam sejarah kerja sama pendidikan dan budaya Indonesia-Uzbekistan. 

"Saya berharap, mahasiswa Uzbekistan yang kini belajar bahasa Indonesia, ke depannya menjadi pionir penerus hubungan Indonesia-Uzbekistan," ungkap  Ilkhomjon Tukhtasino .

Seperti dilaporkan Staf KBRI di Tashkent, Uzbekistan merangkap Kirgystan, M. Mufti Rakadia, penyerahan angklung dengan skala besar seperti ini merupakan pertama kali di Uzbekistan.

"Dalam sejarah persahabatan antara Indonesia dan Uzbekistan, pemberian kenang-kenangan berupa perangkat musik tradisional asli Jabar itu baru sekarang ini," kata M. Mufti Rakadia dalam rilisnya.

Pada acara penyerahan angklung tersebut, para mahasiswa Uzbekistan yang baru pertama kali memegang angklung, turut memainkan beberapa lagu Indonesia meskipun hanya melakukan latihan dalam waktu singkat.

Kata M. Mufti Rakadia, lagu yang dimainkan antara lain Burung Kaka Tua dan Edelweiss. Mereka  tidak lupa juga dimainkan lagu populer Uzbekistan yaitu Chaykhana. (nst)

sumber:  https://jabar.poskota.co.id/2021/04/21/dubes-ri-untuk-uzbekistan-serahkan-set-angklung-kepada-samsifl-samarkand?halaman=2

Dubes RI untuk Uzbekistan: Kurikulum Indonesia Perlu Pendidikan Perdamaian


BANDUNG - Kurikulum pendidikan di Indonesia dinilai perlu memasukkan bahan ajar pendidikan perdamaian untuk memunculkan suasana damai sejak dini. Pendidikan ini penting di tengah kondisi masyarakat yang semakin individualistis.

Hal itu disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Uzbekistan dan Kirgistan Sunaryo Kartadinata saat menjadi keynote speaker konferensi pendidikan perdamaian di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Rabu (11/12/2019).

Menurut dia, di beberapa negara telah menerapkan pendidikan perdamaian di sekolah. Bahkan, pendidikan perdamaian sudah menjadi bagian yabg dilaksanakan secara sadar. Tujuannya untuk membangun suasana damai. sehingga saat belajar pun, berlangsung damai.

"Ini perlu kesadaran tinggi, karena kedamaian bukan titik akhir resolusi konflik. Tapi sebuah kegiatan langgeng dan sustainable. Bagaimana ini diterjemahkan dalam proses pendidikan," kata Sunaryo. Menurut dia, konsep pendidikan perdamaian saat ini belum disadari pada pengambil kebijakan pendidikan. Sehingga penerapannya belum ada di Indonesia. Apalagi, kata dia, bila dikaitkan dengan visi 2030, yaitu dunia yang damai dan berkeadilan, Indonesia harus berpartisipasi di dalamnya.

"Jadi kedamaian jangan hanya dilihat paradigma negatifnya, yaitu untuk menghilangkan konflik. Tapi ini desain, untuk jangka panjang. Kementerian pendidikan harus lihat visi ini. Regulasi bisa kita tertahankan, tetapi intinya bagaimana ini menjadi filosofi," ujar Sunaryo yang juga Mantan Rektor UPI itu. Menurut dia, pendidikan perdamaian penting disaat kondisi saat ini. Di mana era distrubsi teknologi telah terjadi. Masyarakat juga semakin individualistis. Sehingga harus dibangun kolaborasi dan toleransi sehingga akan terbangun kedamaian untuk hidup jangka panjang.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Konversi Riswanda menyatakan, konferensi Internasional tentang Pendidikan Kedamaian ini adalah yang pertama digelar. Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai kalangan praktisi, penelitian, organisasi dan lembaga lainnya. Juga hadir pakar dari Direktur Peace Education Center Miriam College Filipina Gail Frances Galang, Dosen International Institute of Hiroshima University Jepang Nakaya Ayami, dan Direktur Center for Students Wellbeing and Prevention of Violence, Australia Philips T Slee. "Konversi ini dimaksudkan untuk saling berbagi pengalaman dan praktek terbaik dalam pendidikan kedamaian antarbangsa, antarnegara dan antar latar belakang keilmuan. Sehingga memberi kontribusi dalam mempromosikan budaya damai," kata Riswanda. Dia mengemukakan, melalui ten yang diusung, memberi pesan bahwa budaya damai di dunia dapat diciptakan melalui berbagai instrumen. Seperti pendidikan, penguatan sumber daya sosial dan budaya, serta diplomasi politik yang dilakukan oleh bangsa-bangsa di dunia. (awd)



Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Rabu, 11 Desember 2019 - 21:13 WIB oleh Arif Budianto dengan judul "Dubes RI untuk Uzbekistan: Kurikulum Indonesia Perlu Pendidikan Perdamaian". Untuk

Uzbekistan Segera Bentuk Gugus Tugas Investasi dan Perdagangan

DPR RI melakukan pertemuan langsung dengan Deputy Perdana Menteri Uzbekistan bidang Investasi dan Perdagangan Luar Negeri, Umurzakov Sardor Uktamovich. Pertemuan ini membahas potensi kerja sama untuk menumbuhkan ekonomi kedua negara.

Pertemuan ini diwakili oleh Wakil Ketua DPR RI bidang Industri dan Pembangunan, Rachmat Gobel dan Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto, serta didampingi oleh duta besar Indonesia untuk Uzbekistan, Sunaryo Kartadinata. Sugeng Suparwoto mengatakan, pihak Uzbekistan sangan menyambut baik niatan Indonesia untuk lebih meningkatkan neraca perdagangan dengan Uzbekistan.

"Indonesia dan Uzbekistan sama-sama saling butuh, Indonesia sudah sejak lama mengimpor kapas dan potasium dari Uzbek, begitupun Uzbek yang menjadi langganan farmasi Indonesia," tambah Sugeng di Tashkent, Uzbekistan, Kamis (20/5).

Pada pertemuan tersebut, masing-masing pihak saling mengutarakan apa saja potensi yang dapat dimanfaatkan untuk keuntungan kedua negara. Baik itu dibidang pertanian, perindustrian, mineral dan gas, serta pariwisata. 

"Deputy PM Uzbekistan akan segera membentuk gugus tugas investasi dan perdagangan, demi memfasilitasi niatan kerjasama Indonesia. Nantinya gugus tugas ini fungsinya untuk meriset dan mendata apa saja hal-hal yang bisa dikerjasamakan dengan Indonesia. Kami pun akan juga membentuk gugus tugas semacam itu, sehingga akan tepat sasaran dan saling untung dua-duanya," tutur Sugeng. (A-2)

Sumber: https://mediaindonesia.com/internasional/406265/uzbekistan-segera-bentuk-gugus-tugas-investasi-dan-perdagangan

Rachmat Gobel Minta Neraca Perdagangan Indonesia dan Uzbekistan Diseimbangkan

Rachmat Gobel dan Sunaryo Kartadinata. (Foto: B1/Primus Dorimulu)

Tashkent, Uzbekistan, Beritasatu.com
 - Sekitar 66% impor Indonesia dari Uzbekistan pada 2020 adalah bahan baku pupuk. Hingga tahun lalu, Indonesia masih defisit dalam perdagangan dengan Uzbekistan. Surplus neraca perdagangan Indonesia dengan Uzbekistan baru terjadi pada kuartal pertama 2021, karena negara ini belum mengimpor apa pun dari Indonesia.

“Potensi perdagangan Indonesia dan Uzbekistan sangat besar. Kita harus seimbangkan neraca perdagangan kedua negara,” kata Wakil Ketua DPR Rachmat Gobel dalam jamuan makan siang dengan Dubes RI untuk Uzbekistan dan Kyrgyzstan, Sunaryo Kartadinata di Tashkent, Uzbekistan, Senin (17/5/2021).

Pada 2020, impor Indonesia dari Uzbekistan sebesar US$ 18,16 juta. Dari jumlah itu, sebanyak US$ 12,27 juta atau 66% adalah bahan baku untuk fertilizers atau bahan baku untuk pupuk. Di dunia, hanya beberapa negara yang memiliki bahan baku khusus untuk pupuk. Selain Uzbekistan, ada Rusia dan Kanada, yang memproduksi bahan baku pupuk yang tidak dimiliki Indonesia.

Selama kuartal pertama 2021, neraca perdagangan Indonesia surplus terhadap Uzbekistan. Namun, kata Starlet Yuniati Koenaifi, sekretaris Kedubes RI di Uzbekistan, kondisi itu bukan karena lonjakan ekspor Indonesia, melainkan belum ada ekspor dari Uzbekistan ke Indonesia. Jika ekspor Uzbekistan ke Indonesia mulai normal, defisit masih akan terjadi.

Sejak 2018, defisit neraca perdagangan Indonesia dan Uzbekistan mengecil. Pada 2020, ekspor Indonesia ke Uzbekistan melonjak 40% ke US$ 12 juta. Potensi ekspor Indonesia ke negeri ini cukup besar karena Uzbekistan sedang dalam pembangunan yang cukup agresif.

Impor dari Uzbekistan dari Indonesia, antara lain berbagai jenis elektronik, terutama kulkas dan air conditioner (AC). Negeri empat musim ini didera suhu hingga 40 sampai 43 derajat celsius setiap musim panas, April-Juli.

Sementara itu, Dubes Sunaryo Kartadinata mengatakan parwisata menjadi tumpuan ekonomi Uzbekistan dan Indonesia dianggap sebagai captive market.

 “Pemerintah Uzbekistan umumnya bicara tentang pariwisata. Indonesia dinilai sebagai captive market. Kita perlu melancarkan kampanye tentang potensi Indonesia,” ungkap Dubes Sunaryo Kartadinata.

Pada kesempatan itu, Rachmat meminta Dubes Sunaryo Kartadinata untuk memaksimalkan hubungan ekonomi Indonesia dan Uzbekistan. Selain karena kedua negara memiliki penduduk Islam terbesar, potensi ekonomi dan budaya kedua negara juga sangat besar. Banyak produk dari Indonesia yang bisa di ekspor ke Uzbekistan, di antaranya produk buah tropis, seperti pisang.

Sumber: https://www.beritasatu.com

KBRI Tashkent, Perkenalkan Budaya Sunda dan Bahasa Indonesia di Uzbekistan


DESKJABAR - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tashkent, Uzbekistan, memperkenalkan budaya sunda dan Bahasa Indonesia sebagai salah satu kerjasama pendidikan. 

Bahasa Indonesia kini menjadi salah satu mata kuliah yang dipelajari perguruan tinggi di negara Uzbekistan.

Hal tersebut merupakan bagian dari kerjasama pendidikan dan budaya Indonesia-Uzbekistan.

Informasi dikirimkan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tashkent, kepada DeskJabar, Minggu, 2 Mei 2021, menyebutkan, diantara promosi budaya Indonesia dan melestarikan budaya angklung, KBRI Tashkent menyerahkan set angklung kepada Samarkand State Institute of Foreign Languages di kota Samarkand, Uzbekistan.

Penyerahan tersebut sudah dilakukan pekan lalu, dimana angklung tersebut berasal dari Saung Mang Udjo, Bandung. Penyerahan angklung dengan skala besar seperti ini merupakan pertama kali di Uzbekistan.

Alat musik angklung merupakan salah satu kesenian budaya Sunda, yang merupakan khazanah seni Indonesia. 

Di institut tersebut juga mahasiswa Uzbek mempelajari bahasa Indonesia sebagai mata kuliah. Pemerintah Indonesia melalui Program BIPA Kemdikbud setiap tahun mengirim guru BIPA.

Pada acara penyerahan, para mahasiswa Uzbekistan yang baru pertama kali memegang angklung, turut memainkan beberapa lagu Indonesia meskipun hanya melakukan latihan dalam waktu singkat.

Ada pun lagu yang dimainkan antara lain, adalah Burung Kaka Tua, Edelweiss, serta tidak lupa memainkan lagu populer Uzbekistan, yaitu “Chaykhana”.

Dubes RI untuk Uzbekistan merangkap Kyrgyzstan, Sunaryo Kartadinata mengharapkan dengan adanya angklung, semakin banyak pemuda-pemudi Uzbekistan yang tertarik dengan budaya dan bahasa Indonesia.

Rektor SamSIFL Mr. Ilkhomjon Tukhtasinov mengatakan acara ini merupakan momentum yang besar dalam sejarah kerja sama pendidikan dan budaya Indonesia-Uzbekistan dan berharap semoga mahasiswa Uzbekistan yang kini belajar bahasa Indonesia, ke depannya menjadi pionir penerus hubungan Indonesia-Uzbekistan ***

Sumber: Pikiran Rakyat